👁️ Total Tayangan: 270.058

Api Hanguskan 8 Rumah Warga, Bupati Vandiko Disorot: Sibuk Acara Adat Saat Rakyat Menangis

Table of Contents
ARTHA-NEWS.COM – KABUPATEN SAMOSIR
Dipublikasikan: 4 Oktober 2025 | Terakhir diperbarui: 23 Juli 2026 pukul 13.36 WIB
 
Duka mendalam masih menyelimuti warga Dusun III Sidaji, Desa Simarmata, Kecamatan Simanindo, Kabupaten Samosir, setelah delapan unit rumah mereka ludes dilalap api pada Senin dini hari (29/9/2025). Namun, hampir sepekan berlalu hingga berita ini dimuat, Bupati Samosir Vandiko T. Gultom belum juga terlihat hadir di lokasi musibah untuk sekadar memberikan dukungan moral kepada warganya yang kini kehilangan tempat tinggal.
 
Ironisnya, di tengah penderitaan warga tersebut, orang nomor satu di Samosir itu justru terlihat sibuk menghadiri acara budaya Horja Bius serta ritual sakral Mangalahat Horbo di Onan Sipulo, Kecamatan Palipi, pada Jumat (3/10/2025). Kehadiran Bupati dalam kegiatan seremonial tersebut memicu kritik tajam dari masyarakat, yang menilai kepedulian pemimpinnya seolah-olah sudah padam.
 
"Kehadiran bupati sangat dinanti di situasi seperti ini. Pemimpin itu bukan hanya ada saat pesta dan seremoni saja, tapi terutama saat rakyatnya sedang menangis," tegas Marco Sihotang, mantan anggota DPRD Samosir, saat ditemui Sabtu (4/10/2025).
 
Marco menilai ketidakhadiran Bupati Vandiko menunjukkan rendahnya empati serta tanggung jawab moral terhadap rakyat yang sedang tertimpa musibah besar.
 
Terlebih lagi, kinerja penanganan darurat pemerintah daerah pun dinilai lamban. Kebakaran yang berkobar sekitar pukul 03.00 WIB baru berhasil dipadamkan satu jam kemudian setelah mobil pemadam tiba, padahal jarak dari pusat kota Pangururan ke lokasi kejadian hanya ditempuh sekitar 20 menit.
 
"Waktu kampanye dulu, beliau rela menembus pelosok desa demi mencari suara. Tapi sekarang saat warganya kehilangan rumah, beliau seolah tak punya waktu untuk sekadar hadir," sindir Marco.
 
Ia juga menyoroti langkah yang hanya mengirimkan perwakilan untuk menyerahkan bantuan tanpa kehadiran langsung sang Bupati. "Itu bentuk kepedulian yang terasa setengah hati saja," tambahnya.
 
Dalam sambutannya saat membuka acara Horja Bius, Bupati Vandiko menyebut pentingnya melestarikan warisan leluhur agar tetap dapat dinikmati generasi mendatang. Pernyataan itu pun dianggap sangat kontras dengan kenyataan pahit yang sedang dirasakan warga Sidaji.
 
"Memang melestarikan budaya itu penting, tapi kepedulian terhadap nyawa dan nasib rakyat jauh lebih utama. Apa gunanya kemeriahan pesta adat kalau rakyatnya masih menangis di atas puing-puing rumah mereka sendiri?" ujar Marco kembali menegaskan.
 
Acara yang berlangsung hingga Sabtu (4/10/2025) itu pun dimeriahkan Festival Gondang Naposo dengan peserta dari berbagai kecamatan. Namun di tengah kemeriahan tersebut, warga Desa Simarmata masih bergelut dengan kesedihan serta keterbatasan akibat hilangnya tempat berlindung dan harta benda mereka.
 
Marco pun menyayangkan sikap sang pemimpin yang selama ini sangat gencar menjalankan program unggulan "Bunga Desa" atau Bupati Ngantor di Desa hingga ke seluruh pelosok, namun sama sekali tidak melakukannya saat rakyatnya tertimpa bencana besar.
 
"Kalau untuk program pencitraan beliau rajin sekali turun ke desa. Tapi saat rakyat sedang menderita, entah mengapa beliau tak kunjung menampakkan diri," pungkas Marco.
 
Saat ini warga Sidaji masih menanti kepedulian yang nyata dari pemimpinnya. Mereka tak sekadar membutuhkan bantuan materi, namun lebih dari itu sangat mendambakan kehadiran dan dukungan moral dari sosok yang seharusnya berdiri paling depan saat rakyat sedang menghadapi kesulitan.
 
(NR. Sitohang)
Analisis • Referensi • Tajam • Handal • Akurat
👁 Views: 0

Posting Komentar

PANGANDARAN.