40 Hari Kematian Army Siregar di Lapas Pangururan: Ibunda Menangis, Dugaan Aksi Kekerasan Kian Menyeruak
Table of Contents
Artha-News.com Samosir (15/12-2025) - Empat puluh hari kepergian Army Siregar,warga binaan Lapas Kelas III Pangururan yang meninggal pada 6 Oktober 2025,menyisakan duka sekaligus tanda tanya besar bagi keluarga. Sang ibu, Elly Tanjung, belum berhenti menangis—dan belum menemukan jawaban.
“Semalam 40 hari anak saya meninggal.Tiap hari saya menangis mengingat arwah,” ujarnya dengan suara bergetar, Sabtu (15/11/2025).
Anak Penurut yang Tiba-Tiba Berakhir Tragis,Elly menggambarkan Army sebagai anak yang patuh, pekerja keras, dan menjadi tulang punggung keluarga.Ia membantu biaya sekolah adiknya,bahkan tetap bertanggung jawab meski menjalani hukuman.
“Dia sangat sayang pada keluarga, rajin salat.Saya terkejut dia sampai dipenjara. Saya tahu sifat anak saya,” kata Elly.
Percakapan terakhir ibu dan anak itu kini menjadi penyesalan terbesar. Sehari sebelum meninggal, Army masih melakukan video call dan meminta ibunya mengirim uang.
“Dia masih sehat.Besoknya saat saya mau kirim uang,saya dapat kabar dia sudah meninggal.Saya seperti disambar petir.”
Selama Army ditahan,Elly rutin mengirim uang sekitar Rp500 ribu setiap satu hingga dua minggu. Namun setelah kematian Army,Elly mempertanyakan penggunaan uang tersebut.
“Dia dipenjara,tidak mungkin butuh sebanyak itu. Untuk apa sebenarnya uang itu?”
Kematian yang Diduga Akibat Kekerasan
Elly menolak percaya bahwa anaknya meninggal secara wajar.Ia menyesalkan dugaan kekerasan yang kabarnya dialami Army sebelum tewas.
“Sebesar apa kesalahan anak saya sampai dipukuli begitu? Pembunuh saja masih dapat keadilan di penjara. Sejahat apa rupanya anak saya sampai dipukuli sampai meninggal?”
Pertanyaan Elly semakin keras ketika menyentil sistem pengawasan Lapas.
“Tidak mungkin dipukuli sebentar langsung mati.Pasti butuh waktu. Di mana penjaganya? Kenapa dibiarkan?”
Hingga kini,keluarga belum menerima penjelasan komprehensif dari pihak terkait mengenai penyebab pasti kematian Army.
Keluarga Tak Kuasa,Hanya Minta Keadilan,Elly mengaku tidak memiliki kemampuan finansial untuk menggandeng pengacara.Namun ia berharap penegak hukum,termasuk Polres Samosir,mengusut tuntas kasus ini.
“Saya tidak menuntut pelaku dihukum mati.Saya hanya ingin semuanya terang benderang, tidak ditutup-tutupi. Biar hati saya tenang.”
Elly bahkan masih sempat menyampaikan pesan damai untuk mereka yang diduga terlibat.
“Saya sudah ikhlas.Saya hanya berharap pelaku sadar dan bertobat. Mungkin mereka juga punya anak.”
Tuntutan Transparansi:
Keluarga besar Army meminta penanganan kasus dilakukan secara independen dan transparan,karena terdapat banyak kejanggalan yang belum terjawab. Mereka mendesak agar penyebab kematian Army diungkap secara terbuka dan tidak berhenti pada penjelasan sepihak.
“Untuk kasus ini, saya hanya mengandalkan kekuatan doa,” ucap Elly dengan lirih. “Tuhan itu tidak tidur.”
(NR.Sitohang)
👁 Views: 0

Post a Comment