Pemkab Bandung Barat Awali Safari Ramadan di Pasirlangu, Tegaskan Komitmen Dampingi Korban Longsor
Table of Contents
Bandung Barat – Pemerintah Kabupaten Bandung Barat menggelar Safari Ramadan perdana di Desa Pasirlangu, Kecamatan Cisarua, Rabu (25/2/2026). Kegiatan ini menjadi awal rangkaian Safari Ramadan yang akan dilaksanakan di lima titik berbeda di Kabupaten Bandung Barat.
Safari Ramadan tahun ini memiliki makna khusus, terutama bagi warga Pasirlangu yang terdampak bencana longsor di Kampung Pasirkuning dan Pasirkuda. Di tengah suasana duka akibat rumah rusak bahkan hilang diterjang bencana, warga tetap menjalankan ibadah puasa dengan penuh ketegaran. Sejumlah keluarga korban yang meninggal dunia pun masih berusaha menguatkan diri atas kehilangan yang mendalam.
Bupati Bandung Barat, Jeje Ritchie Ismail, menyampaikan bahwa Pasirlangu sengaja dipilih sebagai lokasi pertama Safari Ramadan sebagai bentuk kepedulian pemerintah daerah terhadap masyarakat terdampak bencana.
“Hari ini kita melaksanakan hari pertama Safari Ramadan. Insyaallah akan dilaksanakan di lima titik, masing-masing per daerah pemilihan. Sengaja dimulai di Pasirlangu karena kita tahu bersama wilayah ini masih berduka pasca longsor. Ini sekaligus untuk bersilaturahmi dan memastikan kondisi warga,” ujar Jeje di sela kegiatan.
Pasca bencana, Pemkab Bandung Barat juga membuka berbagai layanan administrasi secara jemput bola, mulai dari pelayanan pajak daerah hingga pembuatan dokumen kependudukan seperti KTP bagi warga yang kehilangan berkas akibat longsor.
“Kami menyediakan berbagai layanan administrasi seperti pajak, pembuatan KTP dan lainnya untuk memudahkan masyarakat,” katanya.
Ia berharap kehadiran pemerintah dapat memberikan penguatan moril bagi para korban dan keluarga yang ditinggalkan. Selain itu, santunan dari BPJS Ketenagakerjaan sebesar Rp42 juta per orang telah disalurkan kepada ahli waris korban meninggal dunia.
“Harapannya keluarga korban terus dikuatkan. Semoga dengan hadirnya kami bisa memberi semangat bagi warga. Kami juga terus mengecek kebutuhan masyarakat di sini,” tuturnya.
Terkait kondisi warga terdampak, sebagian besar telah pindah ke rumah kontrakan. Namun demikian, masih terdapat sejumlah warga di zona kuning dan merah yang proses pendataannya terus dikaji agar seluruhnya dapat menerima santunan secara adil dan tepat sasaran.
“Intinya kita tidak ingin masyarakat kesulitan. Zona kuning pun akan kita tangani dan diberikan santunan,” tegasnya.
Sementara itu, rencana pembangunan hunian tetap bagi korban longsor masih dalam tahap musyawarah. Hingga kini, lokasi relokasi belum diputuskan dan masih menunggu hasil pembahasan lebih lanjut.
Menanggapi banyaknya warga luar daerah yang datang ke lokasi bekas longsor, Jeje menegaskan kawasan tersebut tidak layak dijadikan wisata bencana.
“Untuk wisata kurang elok. Jika pun datang, lebih baik untuk mendoakan,” pungkasnya.
👁 Views: 0
Post a Comment