Targetkan Cimahi Zero to TPA, Pemkot Resmikan TPST Utama Cimahi Selatan di Momentum HPSN 2026
Table of Contents
CIMAHI — Pemerintah Kota Cimahi menandai peringatan Hari Peduli Sampah Nasional (HPSN) 2026 dengan langkah konkret melalui peresmian Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) Utama Cimahi Selatan, Selasa (10/2/2026). Momentum ini membawa pesan refleksi mendalam bagi warga Cimahi, mengingat sejarah kelam tragedi longsor TPA Leuwigajah tahun 2005 yang menjadi cikal bakal lahirnya HPSN. Kehadiran fasilitas baru ini menjadi simbol transformasi pengelolaan sampah kota, dari sekadar membuang menjadi mengolah secara bertanggung jawab guna memastikan keselamatan lingkungan dan masyarakat.
Wali Kota Cimahi, Ngatiyana, menegaskan bahwa peresmian ini adalah wujud nyata komitmen pemerintah untuk tidak lagi menjadikan sampah sebagai ancaman, melainkan sumber daya yang memberi manfaat. Dengan kapasitas pengolahan mencapai 10 hingga 15 ton per hari, TPST Utama Cimahi Selatan diproyeksikan menjadi tulang punggung baru dalam mengurangi beban pengangkutan sampah ke TPA. Langkah ini menjadi krusial mengingat timbulan sampah di Kota Cimahi kini telah menyentuh angka 234 ton per hari, sehingga akselerasi menuju program Cimahi Zero to TPA menjadi target yang tidak bisa ditunda lagi.
Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Cimahi, Chanifah Listyarini, memaparkan bahwa tantangan besar masih membentang di depan mata karena tingkat pengelolaan sampah kota saat ini baru mencapai sekitar 49,6 persen. Dengan jumlah penduduk yang terus bertumbuh, kehadiran TPST Utama Cimahi Selatan melengkapi infrastruktur yang sudah ada sebelumnya di wilayah Utara, yakni TPST Santiong dan TPST Lebaksaat. Strategi yang digunakan pun cukup unik dan efisien, yakni dengan memanfaatkan bangunan eks pabrik yang tidak beroperasi, sehingga penyediaan fasilitas dapat dilakukan dengan lebih cepat guna melayani wilayah Selatan yang dihuni lebih dari separuh populasi kota.
Lebih dari sekadar tempat pemilahan, fasilitas ini dilengkapi unit finishing goods yang mampu mengubah residu sampah menjadi produk bernilai ekonomi, seperti Refuse Derived Fuel (RDF) untuk kebutuhan industri. Chanifah menjelaskan bahwa potensi pengembangan produk sampingan sangat luas, mulai dari kompos standar, biomassa, budidaya maggot, hingga pengolahan biji plastik dan paving block. Namun, ia menekankan bahwa kecanggihan teknologi ini tidak akan maksimal tanpa dukungan partisipasi aktif masyarakat dalam memilah sampah dari rumah sebagai hulu dari seluruh sistem pengelolaan yang terintegrasi.
Melalui momentum HPSN 2026, Pemerintah Kota Cimahi berharap operasional TPST Utama Cimahi Selatan menjadi tonggak baru dalam penguatan regulasi, pembiayaan, dan kelembagaan persampahan. Inisiatif ini bukan sekadar peresmian seremonial, melainkan awal dari penguatan jaringan pengolahan sampah di seluruh penjuru kota demi mewujudkan lingkungan yang bersih, sehat, dan berkelanjutan bagi generasi mendatang.
👁 Views: 0
Post a Comment