Di Meja Kopi Pangururan, Dua Arah Pengabdian Putra Batak Jadi Bahan Perbincangan

Table of Contents
Artha-Newsm.com I Samosir (5/03-2026) - Percakapan ringan di warung-warung kopi di Pangururan sering kali menjadi cermin bagaimana masyarakat memaknai dinamika kepemimpinan dan representasi politik di daerah. Di tengah kepulan kopi hitam dan udara yang turun dari lereng Gunung Pusuk Buhit, obrolan tentang dua putra Batak yang kini berada di panggung pengabdian berbeda kerap muncul dalam percakapan sehari-hari.

Di satu sisi, masyarakat menyebut nama Bupati Vandiko Timotius Gultom yang belakangan cukup intens melakukan kunjungan ke ibu kota. Kehadirannya di berbagai kementerian di Jakarta kerap dikaitkan dengan upaya melobi dukungan anggaran pembangunan untuk Kabupaten Samosir.

Langkah tersebut dipandang sebagai bagian dari strategi pemerintah daerah untuk mempercepat pembangunan infrastruktur dan sektor pariwisata di kawasan Danau Toba, yang selama ini menjadi salah satu destinasi prioritas nasional.

“Kalau kepala daerah rajin ke Jakarta, biasanya memang untuk membuka pintu program pusat,” ujar seorang warga di salah satu warung kopi Pangururan. Menurutnya, hubungan yang intens dengan kementerian kerap menjadi faktor penting dalam menarik dukungan program pembangunan ke daerah.

Namun di sisi lain, masyarakat juga kerap membicarakan sosok Rapidin Simbolon, anggota Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia yang duduk di kompleks legislatif Senayan Sebagai wakil rakyat dari daerah pemilihan Sumatera Utara, Rapidin dikenal cukup sering turun langsung ke daerah untuk menemui masyarakat.

Kehadirannya di berbagai kegiatan masyarakat di kampung halaman membuat sebagian warga melihatnya sebagai figur yang tetap menjaga kedekatan dengan basis konstituen.

“Kalau beliau pulang kampung, biasanya langsung turun ke masyarakat. Itu yang membuat orang merasa masih diperhatikan,” kata seorang warga lain yang ikut dalam perbincangan.

Di meja kopi sederhana itu, perbandingan dua peran tersebut sering muncul bukan dalam nada pertentangan, melainkan sebagai refleksi tentang dua jalur pengabdian yang berbeda.

Di satu sisi ada kepala daerah yang bergerak dari daerah menuju pusat untuk mencari dukungan pembangunan. Di sisi lain ada wakil rakyat di tingkat nasional yang kembali ke daerah untuk menyerap aspirasi masyarakat.

Bagi warga, kedua peran itu sejatinya berada dalam satu tujuan yang sama: memperjuangkan kepentingan daerah.

“Yang satu mengetuk pintu di pusat, yang satu membawa suara kampung ke pusat,” ujar seorang pria paruh baya sambil menutup percakapan pagi itu.

Di Pangururan, percakapan seperti itu mungkin terlihat sederhana. Namun dari meja kopi kecil di tepian Danau Toba, masyarakat sering membaca arah perjalanan para pemimpinnya—dengan cara yang tenang, namun penuh makna.

(NR.Sitohang)
👁 Views: 0

Post a Comment