👁️ Total Tayangan: 240.624

Tidak Sekadar Bantuan, Cimahi Bangun Kawasan Mandiri Berbasis Potensi Lokal

Table of Contents
CIMAHI – ARTHA‑NEWS – Pemerintah Kota Cimahi meluncurkan strategi baru untuk mempercepat pengentasan kemiskinan melalui Program Kampung Sosial Berbasis Ketahanan Pangan dengan Orientasi Destinasi Wisata. Inisiatif ini menjadi tonggak pergeseran pendekatan dari sekadar pemberian bantuan sosial menuju pemberdayaan berkelanjutan yang menggali sepenuhnya potensi lokal. Langkah strategis ini disepakati dalam Focus Group Discussion (FGD) yang digelar di Mal Pelayanan Publik Kota Cimahi, Selasa (7/7/2026).
 
Kegiatan dibuka secara resmi oleh Wakil Wali Kota Cimahi sekaligus Ketua Tim Percepatan Penanggulangan Kemiskinan, Adhitia Yudisthira, dan dihadiri sekitar 100 peserta dari perangkat daerah, perguruan tinggi, pelaku usaha, organisasi kemasyarakatan, media, serta pemangku kepentingan lainnya. Beliau menegaskan bahwa penanganan kemiskinan harus berfokus pada pembangunan kapasitas agar warga mampu mandiri secara sosial maupun ekonomi.
 
“Kampung Sosial adalah gagasan potensial yang bisa direplikasi ke seluruh wilayah Cimahi. Kuncinya ada pada kolaborasi semua pihak, serta pendekatan yang dimulai dari tingkat RT, RW hingga kelurahan agar program benar‑benar tepat sasaran,” ujar Adhitia.
 
Kepala Dinas Sosial Kota Cimahi, Totong Solehudin, menjelaskan bahwa program ini mengintegrasikan aspek kesejahteraan sosial, ketahanan pangan, ekonomi masyarakat, pelestarian lingkungan, dan pengembangan wisata. Mengingat karakteristik Cimahi yang padat penduduk namun terbatas wilayah, intervensi terpadu sangat dibutuhkan bagi kelompok di desil bawah berdasarkan Data Tunggal Sosial Ekonomi Nasional.
 
Sebagai tahap awal, pengembangan difokuskan di Kelurahan Cipageran dan Kelurahan Citeureup yang memiliki keunggulan di sektor pertanian perkotaan, usaha mikro, serta wisata berbasis masyarakat. Program ini menerapkan pendekatan Pentahelix dan rekayasa sosial, dengan mengadopsi keberhasilan daerah lain yang disesuaikan dengan kondisi lokal. Menariknya, kawasan ini juga direncanakan menjadikan kendaraan inovasi “Komodo” buatan anak bangsa asal Cimahi sebagai salah satu identitas dan daya tarik utama.
 
Keberhasilan program tidak hanya diukur dari penurunan angka kemiskinan, melainkan juga tumbuhnya ekonomi lokal dan terbentuknya kawasan edukasi yang mandiri. Selain itu, pengelolaan dirancang agar tidak bergantung sepenuhnya pada Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD), melainkan mengandalkan dukungan Tanggung Jawab Sosial Perusahaan (CSR), dunia usaha, dan komunitas agar keberlanjutan program tetap terjaga.
 
Melalui FGD ini, pemerintah berharap mendapatkan berbagai masukan penyempurnaan sebelum diterapkan secara nyata, guna mewujudkan visi Cimahi Maju, Aman, Nyaman, dan Tertib (MANTAP) lewat pembangunan yang inklusif.

👁 Views: 0

Posting Komentar

🔴 Memuat berita...