MBG: Untuk Siapa Sebenarnya? Antara Keuntungan Elite dan Hak Penerima Manfaat di Pangandaran
Table of Contents
Artha-news.com I Pangandaran
Program MBG digadang-gadang sebagai solusi. Namun di lapangan, suara sumbang mulai bermunculan. Di wilayah Kabupaten Pangandaran, muncul pertanyaan tajam: apakah program ini benar-benar berpihak pada penerima manfaat, atau justru menjadi ladang keuntungan bagi segelintir pihak ?
Narasi yang beredar di masyarakat terdengar getir: Intinya lahan MBG top markotop. Ya bosnya, ya SPPG-nya, ya pemasoknya, semua harus untung. Perkara penerima manfaat terima atau tidak, itu urusan belakangan.
Kalimat itu bukan sekadar keluhan, melainkan cerminan kekecewaan yang makin hari makin terasa nyata.
Ketua AWP Pangandaran, N Nurhadi, pada Senin (2 Maret 2026) angkat suara. Ia menyoroti dugaan ketimpangan dalam tata kelola MBG di Pangandaran
“Kalau semua unsur pengelola bicara soal keuntungan dan kelancaran distribusi anggaran, lalu di mana posisi masyarakat sebagai penerima manfaat utama?” tegasnya.
Menurutnya, persoalan bukan sekadar teknis penyaluran, tetapi menyangkut rasa keadilan. Di sejumlah titik, penerima manfaat mengaku kualitas dan kontinuitas layanan belum sesuai harapan. Sementara di sisi lain, roda pengadaan dan distribusi disebut-sebut berjalan begitu mulus.
Pertanyaan yang mengemuka pun kian tajam:Apakah MBG masih berdiri kokoh di atas prinsip kesejahteraan rakyat ?
Ataukah telah bergeser menjadi bagian dari mata rantai keuntungan besar dalam pengelolaannya ?
Nurhadi menegaskan perlunya transparansi total. Ia meminta pemerintah daerah dan seluruh unsur pengelola membuka data secara terang-benderang—mulai dari mekanisme penunjukan pemasok, standar kualitas, hingga alur anggaran.
“Kalau memang ini program untuk rakyat, jangan alergi diaudit publik. Jangan takut dikritik. Justru kritik itu vitamin agar tidak melenceng,” ujarnya.
Di tengah harapan besar masyarakat terhadap program ini, bayang-bayang ketidakadilan menjadi alarm yang tak bisa diabaikan. Pangandaran kini menjadi sorotan: apakah suara warga akan didengar, atau tenggelam di balik gemuruh kepentingan ?
MBG seharusnya tentang gizi, tentang masa depan, tentang keadilan sosial. Jika yang tumbuh justru kecurigaan dan rasa tidak adil, maka yang perlu diperbaiki bukan hanya teknisnya—melainkan keberpihakannya.
Publik menunggu jawaban.
( UG ,)
👁 Views: 0
Post a Comment