Rabu, Oktober 28, 2026

Aliansi BEM se-Tasikmalaya Serukan 10 Tuntutan Rakyat dan Evaluasi Persoalan Nasional

TASIKMALAYA, ARTHA-NEWS — Aliansi Badan Eksekutif Mahasiswa se-Tasikmalaya (BEMSETAS) secara resmi mengeluarkan naskah kajian akademik serta rumusan tuntutan strategis guna mengawal amanat reformasi. Gerakan ini dibentuk untuk mengevaluasi berbagai persoalan kebijakan publik yang dinilai mendesak, baik di tingkat nasional maupun daerah.
 
Aksi dan kajian yang diusung oleh para mahasiswa ini mencakup 13 isu krusial yang memerlukan pengawasan serta perbaikan berkelanjutan dari pemerintah. Berdasarkan naskah akademik yang disusun, BEMSETAS menyoroti sejumlah persoalan mendasar yang kemudian dirangkum ke dalam lima kluster tuntutan utama.
 
5 Kluster Tuntutan Utama BEM se-Tasikmalaya
 
Evaluasi Program Pemerintah & Hak Dasar
 
Mendesak evaluasi menyeluruh terhadap tata kelola Program Makan Bergizi Gratis (MBG) dan Koperasi Desa. Mahasiswa menuntut peningkatan standar sanitasi pangan, perbaikan pelayanan kesehatan, transparansi klaim BPJS, hingga pemutakhiran Data Tunggal Sosial dan Ekonomi Nasional (DTSEN) agar bantuan sosial tepat sasaran.
 
Reforma Agraria & Keadilan Ekonomi
 
Menuntut percepatan reforma agraria, penyelesaian konflik pertanahan, serta pemberantasan mafia tanah. Selain itu, aliansi juga mendesak transparansi realisasi penyerapan tenaga kerja serta perlindungan hak-hak buruh.
 
Lingkungan Hidup & Penanganan Bencana
 
Menyoroti pentingnya penguatan pencegahan kebakaran hutan dan lahan (Karhutla), mitigasi bencana yang cepat dan transparan di berbagai wilayah, serta pengendalian harga kebutuhan pokok dan ketersediaan Bahan Bakar Minyak (BBM) yang berkeadilan bagi masyarakat.
 
Demokrasi, Hukum, & Hak Digital
 
Mendesak penghentian tindakan represif serta penggunaan kekuatan berlebihan oleh aparat dalam mengamankan aksi. Mahasiswa menolak militerisasi ruang sipil yang tidak sesuai hukum, serta memperkuat perlindungan hak digital dan kebebasan berekspresi.
 
Transparansi Anggaran & Agenda Reformasi
 
Menuntut keterbukaan informasi alokasi dan realisasi anggaran pembangunan Ibu Kota Nusantara (IKN), penguatan pemberantasan korupsi, serta percepatan agenda reformasi secara menyeluruh dan akuntabel.
 
Kritik Tajam untuk "Trisula" Pemangku Kebijakan Tasikmalaya
 
Dalam orasinya di tengah aksi, perwakilan Dema INU, Salman Faisal, dengan tegas menyampaikan kritik tajam terhadap lambannya respons birokrasi dan unsur pimpinan di daerah.
 
Ia menggunakan perumpamaan keras dalam menyuarakan kondisi kepemimpinan lokal saat ini.
 
"Ikan busuk dimulai dari kepalanya," ujar Salman Faisal, menggambarkan bagaimana "trisula" pemangku kebijakan di Kota Tasikmalaya — yang terdiri dari DPRD, Walikota, dan Polres — dinilai sangat lamban serta abai terhadap berbagai kepentingan rakyat.
 
Tanggapan Moral dan Intelektual Mahasiswa
 
Melalui penyusunan naskah akademis dan aksi nyata ini, BEMSETAS bersama seluruh elemen yang tergabung menegaskan bahwa kritik yang dilayangkan bukanlah sekadar penolakan tanpa dasar. Hal ini merupakan bentuk tanggung jawab moral dan intelektual mahasiswa agar kebijakan publik senantiasa berpihak pada kesejahteraan rakyat.
 
Mahasiswa Tasikmalaya menegaskan agar pemerintah tidak hanya memberikan jawaban normatif. Mereka menuntut dibukanya ruang dialog, transparansi terhadap data, serta tindakan nyata untuk menindaklanjuti setiap persoalan secara konkret.
 
(Arya Siloka)
 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar